Di Balik Kabut Bukit Slimpuyang, Ada Potensi Wisata dan Ekonomi yang Tumbuh di Lampung Selatan
Di balik hijaunya perbukitan Lampung Selatan, Bukit Slimpuyang menjulang sebagai destinasi
yang menawarkan panorama luar biasa. Terletak di Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten
Lampung Selatan, bukit dengan kurang kebih 1283 mdpl ini menjadi magnet bagi pecinta alam,
pendaki pemula, hingga pemburu senja yang ingin rehat sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan.
Setiap akhir pekan, para pengunjung berdatangan dengan motor karena satu-satunya akses menuju lokasi hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Jalanan sempit, berbatu, dan menanjak menjadi bagian dari tantangan seru sebelum mencapai area parkir bawah. Dari titik tersebut, pendakian ringan selama 15 hingga 20 menit diperlukan untuk mencapai puncak bukit.
Harga tiket masuk ke Bukit Slimpuyang saat ini adalah Rp30.000 per-motor, yang sudah termasuk biaya
parkir dan kontribusi pengelolaan tempat. Meskipun masih minim fasilitas, panorama yang ditawarkan
menjadikan biaya tersebut sangat sepadan. Pengelolaan berbasis swadaya masyarakat ini menunjukkan
komitmen para warga lokal untuk jadikan bukit Slimpuyang sebagai pariwisata alam yang worth it untuk dikunjungi.
Salah satu pendaki, Afry (20), mahasiswa asal Unila, mengatakan bahwa tempat ini memberinya
pengalaman yang sulit dilupakan. “Pemandangannya luar biasa. Dari atas kita bisa lihat laut, pegunungan,
dan ilalang yang membentang luas. Pada saat sunset, langitnya benar-benar wow banget, sih”, ujarnya antusias.
Waktu terbaik untuk mengunjungi Bukit Slimpuyang adalah sekitar bulan Mei hingga September ketika
musim kemarau karena membuat jalur pendakian tidak licin dan cuaca cerah memaksimalkan pemandangan.
Banyak pengunjung yang datang sejak pagi buta atau menjelang sore demi mengejar momen matahari terbit dan
tenggelam yang spektakuler.
Bukit Slimpuyang tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga ketenangan batin.
Dari puncaknya, hanya suara angin dan dedaunan yang menemani. Bagi mereka yang sedang mencari tempat
untuk rekreasi bukit ini menjadi tempat pelarian sempurna untuk mengisi ulang energi dan menyatu kembali dengan alam.
Namun, lebih dari sekadar tempat rekreasi, Bukit Slimpuyang juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi lokal.
Kehadiran wisatawan mendorong geliat bisnis warga sekitar mulai dari usaha penyewaan tenda, tempat istirahat,
hingga warung-warung kecil yang mulai bermunculan di kaki bukit. Meski masih dalam tahap awal, potensi ini bisa
berkembang menjadi ekosistem wisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan jika didukung oleh infrastruktur dan
dan pelatihan dari pemerintah daerah.
Dalam skala lebih luas, pertumbuhan pariwisata di titik-titik seperti Slimpuyang
memberi sinyal positif bagi sektor ekonomi kreatif dan UMKM di Lampung. Semakin banyak desa wisata yang muncul
berarti semakin terbuka lapangan kerja, utamanya bagi generasi muda yang tinggal dan berkembang di kampung halamannya.
Bukit Slimpuyang adalah contoh nyata bagaimana pariwisata alam bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Bila dikelola secara bijak, surga kecil di Lampung Selatan ini bisa menjadi destinasi unggulan.
Informasi lebih lebih lanjut kunjungi Instagram Lampost.co https://www.instagram.com/lampost.co?utm_source=ig_web_button_share_sheet&igsh=ZDNlZDc0MzIxNw==
Komentar
Posting Komentar